This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Minggu, 29 Mei 2016

Indikasi Obat Chloramphenicol 250 mg serta Efek Sampingnya


Chloramphenicol 250 mg

Chloramphenicol 250 mg

Indikasi:

1.Kloramfenikol merupakan obat pilihan untuk penyakit tifus, paratifus dan salmonelosis lainnya. 2.Untuk infeksi berat yang disebabkan oleh H. influenzae (terutama infeksi meningual), rickettsia, lymphogranuloma-psittacosis dan beberapa bakteri gram-negatif yang menyebabkan bakteremia meningitis, dan infeksi berat yang lainnya.
Kontra Indikasi:
Penderita yang hipersensitif atau mengalami reaksi toksik dengan kloramfenikol. Jangan digunakan untuk mengobati influenza, batuk-pilek, infeksi tenggorokan, atau untuk mencegah infeksi ringan.
Komposisi:
Tiap kapsul mengandung 250 mg kloramfenikol

Cara Kerja:
Kloramfenikol adalah antibiotik yang mempunyai aktifitas bakteriostatik, dan pada dosis tinggi bersifat bakterisid. Aktivitas antibakterinya dengan menghambat sintesa protein dengan jalan mengikat ribosom subunit 50S, yang merupakan langkah penting dalam pembentukan ikatan peptida. Kloramfenikol efektif terhadap bakteri aerob gram-positif, termasuk Streptococcus pneumoniae, dan beberapa bakteri aerob gram-negatif, termasuk Haemophilus influenzae, Neisseria meningitidis, Salmonella, Proteus mirabilis, Pseudomonas mallei, Ps. cepacia, Vibrio cholerae, Francisella tularensis, Yersinia pestis, Brucella dan Shigella.

Dosis:
Dewasa, anak-anak, dan bayi berumur lebih dari 2 minggu :
50 mg/kg BB sehari dalam dosis terbagi 3 – 4.

Bayi prematur dan bayi berumur kurang dari 2 minggu :
25 mg/kg BB sehari dalam dosis terbagi 4.

Peringatan dan Perhatian:
Pada penggunaan jangka panjang sebaiknya dilakukan pemeriksaan hematologi secara berkala.

Hati-hati penggunaan pada penderita dengan gangguan ginjal, wanita hamil dan menyusui, bayi prematur dan bayi yang baru lahir.

Penggunaan kloramfenikol dalam jangka panjang dapat menyebabkan tumbuhnya mikroorganisme yang tidak sensitif termasuk jamur.


Efek Samping:
Diskrasia darah, gangguan saluran pencernaan, reaksi neurotoksik, reaksi hipersensitif dan sindroma kelabu.

Interaksi Obat:
Kloramfenikol menghambat metabolisme dikumarol, fenitoin, fenobarbital, tolbutamid, klorpropamid dan siklofosfamid.

Cara Penyimpanan:
Simpan di tempat sejuk dan kering, terlindung dari cahaya.

Kemasan:
Kotak 10 blister @ 12 kapsul

HARUS DENGAN RESEP DOKTER

Indikasi Obat metronidazol serta efek Sampingnya

Metronidazole

 

INDIKASI DAN KONTRAINDIKASI

Metronidazol adalah salah satu obat antibiotika yang banyak diresepkan di Indonesia. Metronidazol adalah antibiotik yang cukup baik untk bakteri anaerob, yakni bakteri yang dapat hidup tanpa membutuhkan oksigen. Bakteri jenis ini biasanya hidup di dalam luka tertutup atau di dalam organ tubuh, misal pada luka kaki penderita kencing manis (diabetes) yang biasanya sudah terdapat nanah, pada infeksi perut bagian dalam, dan sebagainya.
Metronidazol juga baik untuk sejumlah parasit dan bakteri penyebab penyakit kelamin. Selengkapnya, metronidazol digunakan untuk penyakit berikut:
  1. Infeksi yang diduga disebabkan oleh bakteri anaerob;
  2. Infeksi menular seksual;
  3. Infeksi bakterial vaginosis (penyakit infeksi tidak spesifik pada vagina);
  4. Infeksi parasit trichomonas (misal pada diare atau keputihan akibat trichomonas);
  5. Infeksi kuman amoeba (misal pada diare akibat amoeba).

Metronidazol tidak boleh diberikan pada pasien yang pernah mengalami alergi terhadap antibiotik ini. Metronidazol juga tidak boleh diberikan untuk wanita hamil trimester pertama (hamil usia 0-3 bulan) dan saat menyusui.

EFEK SAMPING

Sejumlah efek samping yang pernah ditemukan dan persentase kemunculannya adalah sebagai berikut:
  1. Nafsu makan turun (10%);
  2. Muncul infeksi jamur (10%);
  3. Diare (10%);
  4. Pusing (10%);
  5. Mual dan muntah (10%);
  6. Air kencing berwarna gelap (1-10%);
  7. Alergi (1-10%);
  8. Kejang (1-10%).

DOSIS

Metronidazol tersedia dalam bentuk tablet, kapsul, dan botol infusan. Metronidazol tablet tersedia dalam ukuran 250 mg dan 500 mg. Untuk kapsul, metronidazol tersedia dalam ukuran 375 mg. Sedangkan dalam kemasan botol infusan, metronidazol tersedia dalam ukuran 500 mg/100ml. Metronidazol dapat ditemukan sebagai obat paten maupun generik.
Dosis metronidazol sebagai terapi infeksi anaerob (misal pada luka diabetes atau infeksi orga dalam tubuh) ialah 7,5 mg/kg berat badan sebanyak 3-4 kali sehari selama 7-10 hari. Secara praktis, metronidazol biasa diresepkan berupa tablet 500mg, diminum tiga kali sehari selama 7 hari. Pada pasien yang dirawat di rumah sakit, metronidazol diberikan lewat infusan dengan dosis 15 mg/kg berat badan. Dosis maksimal ialah 4 gram per hari. Untuk infeksi kelamin dan diare akibat trichomonas, metronidazol diberikan 500 mg, dua kali sehari selama 7 hari. Sedangkan untuk diare akibat amoeba, metronidazol diberikan sebanyak 750 mg, 2-3 kali sehari selama 5-10 hari.
Untuk anak-anak, dosis Metronidazol tergantung berat badan. Dosisnya ialah 15 mg/kg berat badan/hari tiga kali sehari. Untuk bayi umur kurang dari 7 hari, dosisnya ialah 7,5 mg/kg berat badan/hari.

Indikasi Obat Cotrimoxazole serta Efek Sampingnya

COTRIMOXAZOLE

 

Obat Generik : 

Trimethoprim / Trimetoprim, Sulfamethoxazole / Sulfametoksazol (Cotrimoxazole / Kotrimoksazol)

Obat Bermerek :

Bactoprim Combi, Bactricid, Bactrim, Batrizol, Cotrim, Cotrimol, Dotrim / Dotrim Forte, Hexaprim / Hexaprim Forte, Ikaprim / Ikaprim Forte, Infatrim, Kaftrim, Lapikot Forte, Licoprima, Meditrim, Meprotrin / Meprotrin Forte, Nufaprim / Nufaprim Forte, Ottoprim, Primadex, Primazole, Primsulfon, Sanprima / Sanprima Forte, Septrin, Spectrem, Sulprim, Sultrimmix / Sultrimmix P / Sultrimmix DS, Trimezol, Triminex, Trimoxsul, Trixzol, Trizole, Ulfaprim, Wiatrim, Xepaprim / Xepaprim Forte, Zoltrim, Zultrop / Zultrop Forte.

KOMPOSISI

  • Cotrimoxazole Tablet : Tiap tablet mengandung  Trimethoprim 80 mg dan Sulfamethoxazole 400 mg.
  • Cotrimoxazole Tablet/Kaplet Forte : Tiap tablet/kaplet forte mengandung Trimethoprim 160 mg dan Sulfamethoxazole 800 mg.
  • Cotrimoxazole Syrup : Tiap 5 ml (1 sendok takar) mengandung Trimethoprim 40 mg dan Sulfamethoxazole 200 mg.

FARMAKOLOGI 

Cotrimoxazole adalah antibiotik yang merupakan kombinasi Sulfamethoxazole dan Trimethoprim dengan perbandingan 5 : 1. Kombinasi tersebut mempunyai aktivitas bakterisid yang besar karena menghambat pada dua tahap sintesis asam nukleat dan protein yang sangat esensial untuk mikroorganisme. Cotrimoxazole mempunyai spektrum aktivitas luas dan efektif terhadap bakteri gram-positif dan gram-negatif, misalnya Streptococci, Staphylococci, Pneumococci, Neisseria, Bordetella. Klebsiella, Shigella dan Vibrio cholerae. Cotrimoxazole juga efektif terhadap bakteri yang resisten terhadap antibakteri lain seperti H. influenzae, E. coli. P. mirabilis, P. vulgaris dan berbagai strain Staphylococcus.

INDIKASI

  • Infeksi saluran kemih dan kelamin yang disebabkan oleh E. coli. Klebsiella sp, Enterobacter sp, Morganella morganii, Proteus mirabilis, Proteus vulgaris.
  • Otitis media akut yang disebabkan Streptococcus pneumoniae, Haemophilus influenzae.
  • Infeksi saluran pernafasan bagian atas dan bronchitis kronis yang disebabkan Streptococcus pneumoniae, Haemophilus influenzae.
  • Enteritis yang disebabkan Shigella flexneri, Shigella sonnei.
  • Pneumonia yang disebabkan Pneumocystis carinii.
  • Diare yang disebabkan oleh E. coli.

KONTRAINDIKASI

  • Penderita dengan gangguan fungsi hati yang parah, insufisiensi ginjal, wanita hamil, wanita menyusui, bayi prematur atau bayi berusia dibawah 2 bulan.
  • Penderita anemia megaloblastik yang terjadi karena kekurangan folat.
  • Penderita yang hipersensitif/alergi terhadap trimetoprim dan obat-obat golongan sulfonamida.

DOSIS DAN ATURAN PAKAI

  • Bayi usia 6 minggu – 6 bulan               : 120 mg, 2 kali sehari.
  • Anak usia 6 bulan – 6 tahun                : 240 mg, 2 kali sehari.
  • Anak usia 6 – 12 tahun                      : 480 mg, 2 kali sehari.
  • Dewasa dan anak diatas 12 tahun        : 960 mg, 2 kali sehari.

EFEK SAMPING

  • Efek samping jarang terjadi pada umumnya ringan, seperti reaksi hipersensitif/alergi, ruam kulit, sakit kepala dan gangguan pencernaan misalnya mual, muntah dan diare.
  • Leukopenia, trombositopenia, agranulositosis, anemia aplastik, diskrasia darah.
  • Walaupun sifatnya jarang dapat terjadi reaksi hipersensitivitas yang fatal pada kulit atau darah seperti sindrom Steven Johnson, toxic epidermal, necrosis fulminant, hepatic necrosis dan diskrasia darah lainnya.

PERINGATAN DAN PERHATIAN

  • Pada penderita dengan gangguan fungsi ginjal, dosis harus dikurangi untuk mencegah terjadinya akumulasi obat.
  • Selama pengobatan dianjurkan untuk banyak minum (minimal 1,5 liter sehari) untuk mencegah kristaluria.
  • Pada penggunaan jangka panjang sebaiknya dilakukan pemeriksaan darah secara periodik karena kemungkinan terjadi diskrasia darah.
  • Hentikan penggunaan Cotrimoxazole bila sejak awal penggunaan ditemukan ruam kulit atau tanda-tanda efek samping lain yang serius.

INTERAKSI OBAT

  • Kotrimoksazol dapat menambah efek dari antikoagulan dan memperpanjang waktu paruh Fenitoin juga dapat mempengaruhi besarnya dosis obat-obat hipoglikemia.
  • Pernah dilaporkan adanya megaloblastik anemia apabila kotrimoksazol diberikan bersama-sama dengan obat yang dapat menghambat pembentukan folat misalnya Pirimetamin.
  • Pemberian kotrimoksazol bersama dengan diuretik terutama Tiazid dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya trobositopenia.

KEMASAN

  • Cotrimoxazole Kaplet Forte
  • Cotrimoxazole Tablet
  • Cotrimoxazole syrup.

Indikasi Obat Ciprofloxacin serta Efek sampingnya


Ciprofloxacin

Pengertian Ciprofloxacin

Ciprofloxacin adalah antibiotik yang digunakan untuk menangani berbagai jenis infeksi akibat bakteri, misalnya infeksi saluran kemih, infeksi pada saluran pencernaan, infeksi pada mata, dan infeksi menular seksual. Jenis obat ini bekerja dengan membunuh atau mencegah perkembangan bakteri yang menjadi penyebab infeksi. Karena itu, ciprofloxacin tidak akan efektif untuk mengobati flu atau pilek yang disebabkan oleh infeksi virus.

Tentang Ciprofloxacin

Jenis obatAntibiotik kuinolon (quinolone)
GolonganObat resep
ManfaatMengatasi infeksi akibat bakteri
Dikonsumsi olehDewasa dan anak-anak
Nama lainCiproxin
Bentuk obatTablet, cairan yang diminum, obat oles, infus, obat tetes mata
Ciprofloxacin tersedia dalam berbagai merek dan dapat digunakan dalam bentuk tablet serta cair. Untuk membeli obat ini, Anda memerlukan resep dari dokter.
Peringatan:
  • Bagi wanita hamil dan menyusui, sesuaikan dengan anjuran dokter.
  • Perlu berhati-hati bagi penderita gangguan ginjal, tendonitis, penyakit jantung, aritmia, epilepsi atau gangguan lain yang dapat menyebabkan kejang-kejang, myastenia gravis, serta kekurangan glukosa-6-fosfat dehidrogenase (G6PD).
  • Penting bagi penderita untuk menghabiskan obat ini sesuai resep dokter untuk memastikan bakteri penyebab infeksi musnah serta mencegah kambuhnya infeksi.
  • Susu, jeruk, obat antasida, dan suplemen yang mengandung zat besi atau zinc dapat menghambat kinerja obat ini.
  • Jika terjadi reaksi alergi atau overdosis, segera hubungi dokter.
Dosis Ciprofloxacin
Dosis penggunaan antibiotik ini tergantung pada jenis dan tingkat keparahan infeksi yang Anda derita. Hubungi dokter untuk dosis anak-anak atau remaja berusia di bawah 18 tahun.
Tabel berikut ini akan menjelaskan dosis secara umum dalam penggunaan ciprofloxacin bagi orang dewasa.
Jenis PenyakitTingkat keparahanDosis per 12 jamDurasi
Infeksi saluran kemihAkut dan tidakterkomplikasi250 mg3 hari
Ringan/Sedang250 mg1-2 minggu
Parah/Terkomplikasi500 mg1-2 minggu
Prostatitis kronis akibat bakteriRingan/Sedang500 mg4 minggu
Infeksi saluran pernapasan bawahRingan/Sedang500 mg1-2 minggu
Parah/Terkomplikasi750 mg1-2 minggu
Sinusitis akutRingan/Sedang500 mg10 hari
Infeksi kulitRingan/Sedang500 mg1-2 minggu
Parah/Terkomplikasi750 mg1-2 minggu
Infeksi tulang dan sendiRingan/Sedang500 mg4-6 minggu
Parah/Terkomplikasi750 mg4-6 minggu
Infeksi pada sistem pencernaanTerkomplikasi500 mg1-2 minggu
TifusRingan/Sedang500 mg10 hari
Infeksi bakteri gonokokusTanpa komplikasi250 mg – hanya perlu diminum sekali1 kali minum
Infeksi antraks–500 mg2 bulan
Khusus untuk infeksi antraks, dokter akan menganjurkan penggunaan obat ini sesegera mungkin setelah Anda mengalami pajanan bakteri.

Mengonsumsi Ciprofloxacin dengan Benar

Ciprofloxacin dapat dikonsumsi sebelum atau sesudah makan.
Jangan lupa untuk meminum banyak cairan, terutama air putih, selama mengonsumsinya. Air putih dapat membantu Anda untuk mencegah kemunculan efek samping obat ini.
Jangan mengonsumsi produk susu serta produk yang mengandung kafein (seperti kopi atau cokelat) bersamaan dengan ciprofloxacin. Konsumsi antasida atau suplemen vitamin yang mengandung zat besi atau zinc juga perlu dihindari selama setidaknya dua jam sebelum atau 4-6 jam sesudah meminum antibiotik ini agar tidak mengurangi keefektifannya.
Jika jadwal minum ciprofloxacin tidak sengaja terlewat, Anda sebaiknya segera meminumnya. Tetapi jangan menggandakan dosis Anda untuk menggantikan dosis yang sudah terlewatkan.

Kenali Efek Samping dan Bahaya Ciprofloxacin

Ciprofloxacin jarang menyebabkan efek samping. Beberapa efek samping yang bisa terjadi saat Anda mengonsumsi antibiotik ini adalah:
  • Mual
  • Sakit kepala
  • Sering buang gas
  • Hubungi dokter jika hal berikut terjadi:
  • Rasa nyeri atau pembengkakan pada otot dan sendi (lebih sering terjadi pada pasien berumur di atas 60 tahun.
  • Reaksi alergi seperti ruam, pembengkakan di sekitar wajah dan mulut serta kesulitan bernapas.

Indikasi Rifampicin Serta Efek Sampingnya

Rifampicin
Rifampicin, atau disebut juga dengan rifampin, merupakan obat antibiotik yang dapat digunakan untuk mengobati beberapa infeksi serius yang disebabkan oleh bakteri. Obat ini berfungsi menghentikan pertumbuhan dan perkembangbiakan bakteri.
Beberapa contoh infeksi yang dapat diatasi oleh rifampicin di antaranya adalah tuberkulosis atau TBC, infeksi staphylococcus, pneumonia Legionnaires, bruselosis, kusta, dan mencegah meningitis serta influenza Haemophilus.

Tentang Rifampicin

Jenis obatAntibiotik
GolonganObat resep
ManfaatMengobati infeksi serius akibat bakteri, seperti:
  • TBC
  • Infeksi staphylococcus
  • Pneumonia legionnaires
  • Bruselosis
  • Kusta
Mencegah influenza Haemophilus dan meningitis
Dikonsumsi olehDewasa dan anak-anak
Nama lainRifampin
Bentuk obatTablet, kapsul, cairan yang diminum, suntik

Peringatan

  • Bagi wanita yang sedang hamil atau menyusui, sesuaikan dosis dengan anjuran dokter.
  • Tanyakan dosis rifampicin untuk anak-anak kepada dokter.
  • Harap berhati-hati jika menderita diabetes, gangguan ginjal, gangguan hati, porfiria atau gangguan darah turunan, dan penyakit kuning.
  • Harap waspada jika Anda mengonsumsi banyak alkohol.
  • Jika terjadi reaksi alergi atau overdosis, segera temui dokter.

Dosis Rifampicin

Berikut ini adalah dosis umum penggunaan rifampicin untuk beberapa kondisi:
PenyakitDosis
TBC8-12 mg/kg per hari (miligram per kilogram berat badan)
Pencegahan meningitis600 mg dua kali sehari selama dua hari
Infeksi staphylococcus600-1200 mg per hari yang dibagi ke dalam 2-4 dosis
Pneumonia Legionnaires600-1200 mg per hari yang dibagi ke dalam 2-4 dosis
Bruselosis600-1200 mg per hari yang dibagi ke dalam 2-4 dosis
Kusta10 mg/kg per hari atau 600 mg per bulan
Mencegah influenza Haemophilus20 mg/kg per hari (miligram per kilogram berat badan) selama empat hari
Untuk pasien anak-anak, tanyakan dosis pada dokter.

 


Mengonsumsi Rifampicin dengan Benar

Ikuti anjuran dokter dan baca informasi yang tertera pada kemasan rifampicin sebelum mulai mengonsumsinya.
Agar penyerapan rifampicin oleh tubuh maksimal, obat ini sebaiknya dikonsumsi saat lambung dalam keadaan kosong, yaitu satu jam sebelum makan atau dua jam setelah makan.
Pastikan ada jarak waktu yang cukup antara satu dosis dengan dosis berikutnya. Usahakan untuk mengonsumsi rifampicin pada jam yang sama tiap hari untuk memaksimalisasi efeknya.
Rifampicin dapat menyebabkan kontak lensa mata menjadi buram. Karena itu, bagi mereka yang sedang mengalami gangguan penglihatan, sebaiknya ganti kontak lensa dengan kacamata selama mengonsumsi obat ini.
Beberapa obat lain dapat mengganggu kinerja rifampicin, oleh karena itu tanyakan pada dokter sebelum Anda mengonsumsinya jika sedang menjalani pengobatan lain. Contoh obat-obatan tersebut adalah obat pereda nyeri, diazepam, verapamil, zolpidem, simvastatin, dan bisoprosol.
Jika Anda menggunakan kontrasepsi hormon, tambahkan pengaman seperti kondom karena efek kontrasepsi berpotensi menurun akibat konsumsi rifampicin.
Bagi pasien yang lupa mengonsumsi rifampicin, disarankan segera meminumnya begitu teringat jika jadwal dosis berikutnya tidak terlalu dekat. Jangan menggandakan dosis rifampicin pada jadwal berikutnya untuk mengganti dosis yang terlewat.
Pastikan Anda menghabiskan seluruh dosis yang diresepkan oleh dokter meski kondisi Anda tampaknya sudah membaik. Hal ini penting dilakukan untuk mencegah kembalinya infeksi. Jika kondisi tidak membaik setelah menghabiskan obat, periksakan diri ke dokter.
Kenali Efek Samping dan Bahaya Rifampicin
Sama seperti obat-obat lain, rifampicin juga berpotensi menyebabkan efek samping. Beberapa efek samping yang umum terjadi setelah mengonsumsi antibiotik ini adalah:
  • Sakit kepala
  • Mengantuk
  • Lemas
  • Diare
  • Mual
  • Nafsu makan berkurang
  • Urin dan keringat berwarna kemerah-merahan

Indikasi Paracetamol dan efek Sampingnya

Parasetamol

 

INDIKASI DAN KONTRAINDIKASI

Parasetamol atau asetaminofen diindikasikan untuk mengurangi rasa nyeri ringan sampai sedang, seperti sakit kepala, sakit gigi, nyeri otot, dan nyeri setelah pencabutan gigi serta menurunkan demam. Selain itu, parasetamol juga mempunyai efek anti-radang yang lemah.
Parasetamol tidak boleh diberikan pada orang yang alergi terhadap obat anti-inflamasi non-steroid (AINS), menderita hepatitis, gangguan hati atau ginjal, dan alkoholisme. Pemberian parasetamol juga tidak boleh diberikan berulang kali kepada penderita anemia dan gangguan jantung, paru, dan ginjal.
Parasetamol terdapat dalam berbagai bentuk dan dalam berbagai campuran obat sehingga perlu diteliti jumlahnya untuk menghindari overdosis. Risiko kerusakan hati lebih tinggi pada peminum alkohol, pemakai parasetamol dosis tinggi yang lama atau pemakai lebih dari satu produk yang parasetamol.

EFEK SAMPING

Efek samping parasetamol jarang ditemukan. Efek samping dapat berupa gejala ringan seperti pusing sampai efek samping berat seperti gangguan ginjal, gangguan hati, reaksi alergi dan gangguan darah. Reaksi alergi dapat berupa bintik – bintik merah pada kulit, biduran, sampai reaksi alergi berat yang mengancam nyawa. Gangguan darah dapat berupa perdarahan saluran cerna, penurunan kadar trombosit dan leukosit, serta gangguan sel darah putih. Penggunaan parasetamol jangka pendek aman pada ibu hamil pada semua trimester dan ibu menyusui.

DOSIS

Untuk meredakan nyeri dan menurunkan demam, dosis parasetamol dewasa 325 – 650 mg setiap 4 jam atau 500 mg setiap 8 jam. Dosis anak adalah 10 – 15 mg/kgBB , dapat diberikan setiap 4 jam (maksimal 5 dosis dalam 24 jam). Dosis maksimal akumulatif parasetamol adalah 4 gram per hari. Efek parasetamol mulai muncul 30 – 60 menit setelah konsumsi dan bertahan selama 4 jam.

 

Indikasi Obat Asam Mefenamat Serta efek Sampingnya

Asam Mefenamat

INDIKASI DAN KONTRAINDIKASI

Asam mefenamat adalah obat pereda nyeri dan peradangan. Obat ini termasuk non-steroid anti-inflammatory drug (NSAID) yang bekerja menghambat pembengkakan, nyeri, kekakuan, dan demam. Obat ini diindikasikan untuk penderita nyeri ringan sampai sedang dan penyakit dengan peradangan, umumnya nyeri gigi, nyeri menstruasi, nyeri otot atau sendi, dan nyeri setelah melahirkan. Obat ini harus diberikan secara hati – hati pada orang dengan riwayat alergi obat NSAID lainnya. Asam mefenamat bersifat mengiritasi lambung sehingga lebih baik tidak digunakan oleh penderita luka lambung atau usus. Obat ini juga dihindari pada penderita gangguan hati atau ginjal karena obat ini dibuang melalui organ tersebut sehingga dapat memperberat kelainan fungsi hati dan ginjal.  Ibu hamil trimester ketiga dan ibu menyusui juga merupakan kontraindikasi penberian asam mefenamat karena obat ini dapat menyebabkan kecacatan pada bayi yang dikandung dan dibuang melalui air susu. Anak di bawah 14 tahun tidak disarankan menerima obat ini karena efektivitas dan efek samping asam mefenamat pada anak – anak belum diketahui.

EFEK SAMPING

Efek samping yang timbul bervariasi dari ringan sampai berat, tergantung pada reaksi tubuh masing – masing orang terhadap obat ini. Efek samping asam mefenamat yang umum ditemui berupa nyeri perut, nyeri telinga, nyeri saat buang air kecil, telinga berdenging,s pusing, diare, mual, sulit tidur, penurunan nafsu makan, dan kelelahan. Efek samping lain yang lebih berat berupa gangguan fungsi ginjal, gangguan napas, gangguan penglihatan, gangguan darah, kejang, penurunan kesadaran, dan depresi. Namun, pada sebagian besar orang asam mefenamat tidak menimbulkan efek samping yang bermakna. Asam mefenamat tidak menimbulkan efek ketergantungan namun dapat menyebakan alergi pada beberapa orang. Reaksi alergi berupa gatal, bintik – bintik kulit, bengkak pada bibir atau mata, sampai pingsan.

DOSIS

Dosis awal diberikan 500 mg, kemudian dilanjutkan 4 x 250 mg. Asam mefenamat tidak boleh diminum lebih dari 2500 mg per hari. Pemberian asam mefenamat disarankan tidak melebihi 7 hari. Efek anti – nyeri timbul cepat beberapa jam setelah dikonsumsi, namun efek anti-peradangan timbul setelah beberapa dosis. Asam mefenamat diminum setelah makan karena dapat mengiritasi lambung. Jangan mengkonsumsi alkohol bersamaan dengan asam mefenamat karena dapat menyebabkan perdarahan saluran cerna. Beberapa jenis obat dapat berinteraksi dengan asam mefenamat sehingga penggunaannya harus dikonsultasikan dengan dokter, antara lain obat pengencer darah, anti-depresi, anti-hipertensi, kemoterapi, NSAID jenis lain, dan obat – obatan jantung.